Kapitalisme dan Paradox
Pertumbuhan
Kapitalsme, faham ekonomi yang
dicetuskan oleh Adam Smith, telah merasuk ke dalam sendi-sendi perokonomian
nasional, tak terkecuali korporasi yang membawa symbol-simbol keagamaan. Symbol
– symbol itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan utama yakni uang. Mereka tidak
akan memperdulikan proses dibalik terciptanya uang. Prinsip ekonomi untuk
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sedikitdikitnya
benar-benar tertancap di dalam benak mereka.
Kapitalisme hanya menciptakan
pertumbuhan semu. Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh para kapitalis, sang
pemilik modal. Pertumbuhan perusahaan hanya dinikmati oleh sang pemegang saham.
Realita yang diciptakan oleh kapitalisme adalah kesenjangan yang semakin
menganga. Maka jangan heran apabila sang pemilik modal bisa miliki banyak
mobil, rumah, dan tanah sementara pekerjanya hanya memiliki motor butut bahkan
rumah pun masih harus mengontrak. Di dalam kapitalisme, proses produksi harus
ditekan sedemikian rupa untuk meraup laba yang sebesar-besarnya. Dan kalau
perlu tanpa cost sedikitpun. Maka tatkala sang pemilik modal memegang teguh
nilai-nilai kapitalisme, maka demonstrasi buruh dan serikat pekerja tetap akan
terjadi.
Pemilik modal yang memegang teguh
nilai-nilai kapitalisme akan selalu menganggap karyawan/pekerja sebagai bagian
dari proses produksi yang menimbulkan cost. Oleh karena itu untuk mencapai
tujuan utamanya yakni uang maka segala macam cost yang timbul dalam proses
produksi harus ditekan seminimal mungkin agar tidak mengurangi laba yang diraih.
Dari uraian ini maka terlihat jelas watak asli dari kapitalisme “serakah”.
Indonesia di dalam konstitusinya
tidaklah menganut sistim ekonomi kapitalisme. Indonesia adalah Negara dengan
penduduk muslim terbesar di dunia. Di dalam ajaran islam, kita tidak akan
menemukan sedikitpun nilai-nilai
kapitalisme. Ekonomi islam adalah ekonomi kebersamaan dan pemerataan, bukan
kesenjangan. Maka diwajibkan bagi mereka untuk menyisihkan sebagian hartanya
untuk diberikan kepada mereka yang kurang beruntung. Semakin besar harta yang
merka miliki maka semakin banyak pula harta yang harus mereka sisihkan kepada
mereka yang berhak. Dalam prespektif yang lebih luas dapat diterjemahkan bahwa
semakin berkembang sebuah perusahaan maka semakin besar pula kewajiban terhadap
mereka yang berhak. Dalam hal ini adalah karyawan yang merupakan bagian
integral dalam proses produksi.
Dari
uraian di atas terlilhat jelas bahwa ideology kepitalisme tidak akan pernah
sejalan dengan ideoogi ekonomi islam. Latas bagaimana dengan korporasi yang
menggunakan symbol-simbol keagamaan sebagai bagian dari proses produksinya
namun tidak menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam islam. Maka sekali
lagi dapat kita katakana bahwa penggunaan symbol-simbol keagamaan hanyalah alat
untuk mencapai tujuan utama dari kapitalisme yakni uang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar