Rabu, 12 September 2012



Kapitalisme dan Paradox Pertumbuhan

Kapitalsme, faham ekonomi yang dicetuskan oleh Adam Smith, telah merasuk ke dalam sendi-sendi perokonomian nasional, tak terkecuali korporasi yang membawa symbol-simbol keagamaan. Symbol – symbol itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan utama yakni uang. Mereka tidak akan memperdulikan proses dibalik terciptanya uang. Prinsip ekonomi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sedikitdikitnya benar-benar tertancap di dalam benak mereka. 

Kapitalisme hanya menciptakan pertumbuhan semu. Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh para kapitalis, sang pemilik modal. Pertumbuhan perusahaan hanya dinikmati oleh sang pemegang saham. Realita yang diciptakan oleh kapitalisme adalah kesenjangan yang semakin menganga. Maka jangan heran apabila sang pemilik modal bisa miliki banyak mobil, rumah, dan tanah sementara pekerjanya hanya memiliki motor butut bahkan rumah pun masih harus mengontrak. Di dalam kapitalisme, proses produksi harus ditekan sedemikian rupa untuk meraup laba yang sebesar-besarnya. Dan kalau perlu tanpa cost sedikitpun. Maka tatkala sang pemilik modal memegang teguh nilai-nilai kapitalisme, maka demonstrasi buruh dan serikat pekerja tetap akan terjadi. 

Pemilik modal yang memegang teguh nilai-nilai kapitalisme akan selalu menganggap karyawan/pekerja sebagai bagian dari proses produksi yang menimbulkan cost. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan utamanya yakni uang maka segala macam cost yang timbul dalam proses produksi harus ditekan seminimal mungkin agar tidak mengurangi laba yang diraih. Dari uraian ini maka terlihat jelas watak asli dari kapitalisme “serakah”. 

Indonesia di dalam konstitusinya tidaklah menganut sistim ekonomi kapitalisme. Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di dalam ajaran islam, kita tidak akan menemukan sedikitpun  nilai-nilai kapitalisme. Ekonomi islam adalah ekonomi kebersamaan dan pemerataan, bukan kesenjangan. Maka diwajibkan bagi mereka untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada mereka yang kurang beruntung. Semakin besar harta yang merka miliki maka semakin banyak pula harta yang harus mereka sisihkan kepada mereka yang berhak. Dalam prespektif yang lebih luas dapat diterjemahkan bahwa semakin berkembang sebuah perusahaan maka semakin besar pula kewajiban terhadap mereka yang berhak. Dalam hal ini adalah karyawan yang merupakan bagian integral dalam proses produksi. 

Dari uraian di atas terlilhat jelas bahwa ideology kepitalisme tidak akan pernah sejalan dengan ideoogi ekonomi islam. Latas bagaimana dengan korporasi yang menggunakan symbol-simbol keagamaan sebagai bagian dari proses produksinya namun tidak menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam islam. Maka sekali lagi dapat kita katakana bahwa penggunaan symbol-simbol keagamaan hanyalah alat untuk mencapai tujuan utama dari kapitalisme yakni uang